Nendyan Saimima

A little girl. A Student. A Woman

Kamis, 19 Mei 2011

Pendapatan Devisa Nasional

Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator ekonomi antara lain dengan mengetahui pendapatan nasional, pendapatan per kapita, tingkat kesempatan kerja, tingkat harga umum, dan posisi neraca pembayaran suatu negara.
Pendapatan nasional dapat didefnisikan sebagai:
• Nilai barang dan jasa yang diproduksi masyarakat suatu negara dalam satu periode tertentu (satu tahun).
• Jumlah pengeluaran nasional untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan.
• Jumlah pendapatan yang diterima faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.
Jika dilihat dari jumlah barang dan jasa yang dihasilkan, pendapatan nasional dapat dikelompokkan menjadi:
1. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) yaitu nilai barang dan jasa yang diproduksi masyarakat suatu negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun. GDP dihitung dengan menjumlahkan semua basil produksi barang dan jasa dari masyarakat yang tinggal di suatu negara, ditambah warga negara asing yang bekerja di negara tersebut. Selain PDB, kita mengenal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh masyarakat yang tinggal di suatu daerah (region).
2. Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) yaitu seluruh nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara suatu negara tertentu di manapun berada dalam periode tertentu, biasanya satu tahun. PNB dapat dirumuskan sebagai berikut.
PNB = PUB – PFPN
Pendapatan Faktor Produksi Neto (PFPN) merupakan selisih antara pendapatan atau produk yang dihasilkan oleh masyarakat yang berada di luar negeri (FPLN) dan pendapatan atau produk yang dihasilkan oleh masyarakat asing di dalam negeri (FPDN). Umumnya, PFPN negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia bernilai negatif. Artinya, impor faktor produksi lebih besar dari pada ekspor faktor produksi. Oleh karena itu, di negara sedang berkembang nilai PNB lebih kecil dari pada nilai PDB.
3. Produk Nasional Neto (Net National Product)
Produk Nasional Neto (PNN) yaitu seluruh nilai produksi barang barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara dalam periode tertentu biasanya sat tahun, setelah dikurangi penyusutan dan barang pengganti modal. PNN dapat dirumuskan sebagai berikut.
PNN = PNB — (Penyusutan + Barang pengganti modal)
Produk GNP menyebabkan barang modal yang ada menjadi habis, misalnya mesin menjadi habis karena digunakan. Jika sumber daya ini tidak digunakan untuk menggantikan barang modal yang ada, GNP tidak mungkin dipertahankan pada periode yang berlaku.

Mata Uang Lokal Di ASEAN

JAKARTA: Indonesia mendorong gagasan penguatan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara ASEAN dan ASEAN plus three (Cina, Jepang, dan Korea).

Tujuannya untuk mengurangi risiko dari penggunaan mata uang ketiga yang nilai tukarnya berubah-ubah.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan bahwa penggunaan mata uang lokal sesama anggota ASEAN plus three memiliki risiko lebih kecil.

Untuk itu, ASEAN perlu meningkatkan volume perdagangan dan investasi. “Khusus untuk volume perdagangan, itu juga dibicarakan tentang upaya mendorong untuk lebih banyak menggunakan local currency, mata uang lokal, dari masing-masing negara,” kata Agus usai mengikuti ASEAN Business Forum di Jakarta Convention Center, Jumat (6/5).

Menurut dia, penggunaan mata uang lokal ini berlaku untuk negara-negara ASEAN atau negara ASEAN dengan China, Jepang, dan Korea.

Agus menegaskan, penggunaan mata uang lokal itu segera dituangkan dalam bentuk perjanjian yang melibatkan bank-bank sentral negara ASEAN.

“Juga dibicarakan tentang pentingnya bank-bank sentral di negara itu mempelajari kemungkinan untuk bisa melakukan dan mempersiapkan fasilitas bilateral swap agreement menggunakan mata uang lokal,” kata Agus.

Dengan perjanjian itu, bank sentral negara-negara ASEAN akan saling berhubungan.

Bilateral swap agreement merupakan fasilitas bantuan keuangan jangka pendek dalam bentuk penukaran mata uang asing. Tujuannya memperkuat cadangan devisa negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran jangka pendek. Agus mengatakan, para deputi menkeu ASEAN diperintahkan untuk membahas isu ini lebih dalam.

“Kita juga memberikan arahan kepada para deputi untuk mendiskusikan ini lebih dalam, yaitu kemungkinan penggunaan local currency pada saat melakukan perdagangan antarnegara,” kata Agus menegaskan.

Namun ia belum bisa memastikan kapan perjanjian itu disepakati. Sebab butuh waktu yang panjang untuk merealisasikannya.

“Ini terobosan yang baik, dan ini perlu ditindaklanjuti karena kadang kalau kita berdua berdagang menggunakan mata uang ketiga kadang kalau mata uang ketiga itu berubah-ubah kan bisa membuat yang tadinya tidak ada risiko menjadi ada risiko begitu,” kata Agus. 


JAKARTA. Indonesia mendorong gagasan penguatan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara ASEAN dan ASEAN plus three (Cina, Jepang, dan Korea). Hal itu untuk mencegah penggunaan mata uang ketiga yang rentan terhadap risiko karena nilai tukar yang berubah-ubah. Penggunaan mata uang lokal memiliki risiko lebih kecil.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyampaikan ASEAN perlu meningkatkan volume perdagangan dan investasi. "Khusus untuk volume perdagangan, itu juga dibicarakan tentang upaya mendorong untuk lebih banyak menggunakan local currency, mata uang lokal dari masing-masing negara," tegas Menkeu, Jumat (6/5).
Menurut Agus penggunaan mata uang lokal ini berlaku untuk negara-negara ASEAN atau negara ASEAN dengan Cina, Jepang, dan Korea. Agus menegaskan, penggunaan mata uang lokal itu segera dituangkan dalam bentuk perjanjian yang melibatkan bank-bank sentral negara ASEAN.
"Juga dibicarakan tentang pentingnya bank-bank sentral di negara itu mempelajari kemungkinan untuk bisa melakukan dan mempersiapkan fasilitas bilateral swap agreement menggunakan mata uang lokal," kata Agus. Dengan perjanjian itu, bank sentral negara-negara ASEAN akan saling berhubungan.
Bilateral swap agreement merupakan fasilitas bantuan keuangan jangka pendek dalam bentuk penukaran mata uang asing. Tujuannya memperkuat cadangan devisa negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran jangka pendek. Agus mengatakan, para deputi Menkeu ASEAN diperintahkan untuk membahas isu ini lebih dalam.
"Kita juga memberikan arahan kepada para deputi untuk mendiskusikan ini lebih dalam, yaitu kemungkinan penggunaan local currency pada saat melakukan perdagangan antarnegara," ucapnya.
Sayangnya Agus belum bisa memastikan kapan perjanjian itu disepakati. "Ini terobosan yang baik, dan ini perlu ditindaklanjuti karena kadang kalau kita berdua berdagang menggunakan mata uang ketiga kadang kalau mata uang ketiga itu berubah-ubah kan bisa membuat yang tadinya tidak ada risiko menjadi ada risiko begitu," tutupnya.

Ekonomi Libya

Hampir sama dengan Irak, Libya adalah negeri Muslim yang sering dituduh oleh Barat, terutama AS, sebagai negara yang termasuk ke dalam “Poros Setan” dan “pendukung teroris”. Kalau Saddam Hussein di Irak dijadikan tokoh bulan-bulanan oleh Barat, pemimpin Libya, Kolonel Muammar Khadafi pun nasibnya tak jauh beda. Kedua pemimpin ini sering digambarkan sebagai monster yang menakutkan. Kedua negara juga memiliki kemiripan, yakni memiliki sumber alam minyak yang cukup besar. Meskipun tidak sebesar Irak, untuk negara-negara Afrika, Libya memiliki cadangan minyak yang besar. Bukan kebetulan, kalau kedua negara ini pernah sama-sama diserang oleh AS dan diembargo atas keputusan resolusi PBB yang disponsori oleh AS. Kedua orang ini pun, secara keliru, sering dikaitkan dengan Islam.
Upaya mempersetankan (demonologi) Libya, terutama oleh AS, telah dimulai ketika Khadafi menumbangkan rezim monarki Raja Kamal Idris tahun 1969. Raja ini merupakan boneka AS dalam pemerintahan Libya. Saat memerintah, dia mengizinkan negara adidaya itu untuk mengontrol ekonomi dan politik negara tersebut. Sebaliknya, Khadafi diduga keras merupakan agen Inggris (ingat, bahwa Khadafi merupakan lulusan pendidikan Inggris) yang ingin menghilangkan pengaruh AS di Libya. Karena itu, kudeta yang dilakukan oleh Khadafi diduga didukung oleh Inggris. Kejengkelan AS semakin menjadi-jadi saat Libya membatalkan berbagai perjanjian dengan AS dan membubarkan fasilitas militer asing di Libya. Apalagi, Muammar Khadafi sering menyuarakan sikap anti-AS serta membantu kelompok-kelompok yang menentang kepentingan AS. Contohnya adalah dukungan Libya terhadap Nur Misuari di Filipina dan GAM di Aceh. Namun demikian, melihat persaingan Inggris dan AS untuk menjadi adidaya dunia, dukungan-dukungan kepada kelompok tersebut bisa menjadi alat bagi Inggris untuk menanamkan pengaruhnya di daerah konflik tersebut, antara lain lewat Khadafi.
Upaya ‘setanisasi’ Libya pun terus berlanjut. Libya dituduh berada di balik Tragedi Ledakan Pesawat Lockerbie. AS, Inggris, dan Prancis pada 21 Januari 1992 mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengesahkan Resolusi 731 yang menuntut agar Libya mau menyerahkan para tersangka. Dua warga Libya, Lamen Khalifa Fhimah dan Abdel Basset Ali al–Megrani, kemudian dituduh sebagai tersangka pelaku peledakan Pesawat Pan Am tahun 1988 di atas Lockerbie. Karena menolak, PBB kemudian menjatuhkan resolusi yang mengembargo negeri ini.
Sebelumnya, pada masa pemerintahan Ronald Reagen, AS menuduh Libya terlibat dalam pengeboman sebuah diskotik di Berlin. Saat itu, seorang pelayan yang berwarga negara AS terbunuh. Dengan alasan ini, AS melancarkan serangan udara atas dua kota utama Libya, Tripoli dan Benghazi. Serangan tanggal 15 April 1986 ini telah menyebabkan terbunuhnya 400 orang sipil; 104 di antaranya anak-anak, 85 wanita, 33 orang cacat, dan 41 orang tua. Padahal, keterlibatan Libya dalam pengeboman itu tidak pernah terbukti. Pengebomnya ternyata memiliki hubungan dengan koneksi Syiria yang kemudian ditahan dan mengakui perbuatannya. Apakah AS merasa bersalah dan kemudian meminta maaf? Tentu saja tidak!
Setanisasi Libya dan Khadafi tersebut dalam media massa ataupun pernyataan pemerintah Barat sering dikaitkan dengan Islam. Ada kesan seolah-olah Khadafi adalah pempimpin Islam dan Libya adalah negara yang didasarkan pada Islam, paling tidak, Libya sering disebut sebagai negara sosialis-Islam. Tentu saja kemudian, setanisasi terhadap Libya dan Khadafi berujung pada penjelek-jelekan Islam. Apalagi, secara keliru sering digambarkan bahwa Khadafi memperjuangkan syariat Islam. Ujung-ujungnya kemudian adalah penjelekan terhadap syariat Islam. Lalu, benarkah Khadafi merupakan cerminan dari pemimpin Islam?

Latar Belakang dan Sejarah

Wilayah Libya, sepanjang sejarahnya, banyak mengalami masa pendudukan dari luar: Phoenician, Carthaginian, Romawi, Yunani, Vandals, Byzantines. Sementara itu, Islam masuk ke Libya lewat penaklukan tentara Islam dari Arab pada abad ke-7 M. Islam kemudian diterima dengan sukarela oleh masyarakat Libya, bahkan mayoritas rakyat Libya beragama Islam dan mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari rakyat Libya. Sampai abad ke-16 Libya masih merupakan bagian dari Khilafah Ustmaniyah. Tahun 1911, penjajah Itali masuk ke Libya dan menjadikannya sebagai salah satu daerah koloninya.
Pada tahun 1943, Itali mengadopsi nama Libya (nama yang digunakan oleh orang Yunani untuk menyebut daerah Afrika Utara, kecuali Inggris), sebagai nama resmi daerah koloninya. Wilayah Libya meliputi Provinsi Cyrenaica, Tripolitania, dan Fezzan. Raja Idris, pemimpin daerah Cyrenaica, memimpin perlawanan rakyat Libya terhadap penjajah Itali sepanjang Perang Dunia I dan II.
Dari tahun 1943 sampai 1951, Tripolitania dan Cyrenaica berada di bawah jajahan Inggris, sementara Fezzan berada di bawah pengontrolan penjajah Prancis. Tahun 1944, Raja Idris kembali dari pengasingannya di Kairo, Mesir, dan kembali di Cyrenaica. Di bawah perjanjian damai dengan Sekutu, Itali menarik diri dari Libya.
Pada tanggal 21 November 1949, Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengumumkan Libya harus menjadi negara merdeka sebelum tanggal 1 Januari 1952. Raja Idris saat itu mewakili Libya dalam negoisasi PBB. Ketika Libya merdeka tanggal 24 Desember 1951, Libya merupakan negara pertama di dunia yang merdeka di bawah desakan PBB. Libya memproklamasikan diri sebagai negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Raja Idris.
Berkat penemuan sumber minyak tahun 1959, Libya menjadi negara kaya di dunia dilihat dari perkapita GDP-nya. Padahal sebelumnya, Libya merupakan negara miskin. Sebelumnya, dalam bidang ekonomi, Libya mengandalkan sektor pertanian seperti jelai (makanan rakyat), kurma, zaitun, dan buah-buahanan peras. Meskipun banyak mengalami kerugian akibat embargo yang diterapkan PBB, ekonomi Libya relatif tetap stabil. Hal ini karena Libya masih bisa mempertahankan volume ekspor minyaknya sekitar 1,5 juta barel perhari. Minyak merupakan 90 % sumber devisa negara ini. Tentu saja, minyak Libya mengundang perusahan-perusahan kapitalis yang haus minyak.
Leo Drollas, analisis minyak dari Centre for Global Energy Studies (CGES) di London mengatakan, bahwa Libya mempunyai cadangan 30 miliar barel, 17 miliar barel lebih banyak dari cadangan di Negeria dan 24 miliar barel lebih banyak daripada cadangan di Cina.
Raja Idris memerintah Libya sampai tanggal 1 September 1969 lewat kudeta militer. Rezim baru Libya dipimpin oleh Dewan Komando Revolusi yang membubarkan sistem monarki dan memproklamasikan Negara Republik Arab yang baru. Kolonel Muammar Khadafi menjadi pimpinan Dewan Komando Revolusi yang secara defakto sekaligus sebagai pempimpin negara Libya.
Lewat Dewan Komando Revolusi ini, terjadilah perubahan arah negara Libya. Dengan moto, “Kebebasan, Sosialisme, dan Persatuan,” Libya bersemangat untuk melepaskan diri dari keterbelakangan, mengambil peran aktif dalam kasus Palestina, mempromosikan persatuan Arab, serta menekankan kebijakan domestik yang berdasarkan kesejahteraan sosial, non-eksploitasi, dan pendistribusian kesejahteraan yang sama. Saat itu juga, pemerintah baru ini menuntut pengunduran diri seluruh instalasi militer asing di Libya. Instalasi militer Inggris di Tobruk dan El Adem ditutup pada Maret 1970. Demikian juga fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Wheelus dekat Tripoli, ditutup Juni 1970. Pada bulan Juli, pemerintah Libya mengusir ratusan warga Itali serta menutup perpustakaan dan pusat-pusat budaya asing di Libya.
Bertahun-tahun sejak revolusi tersebut, Libya mengklaim dirinya sebagai pemimpin Arab dan Afrika serta berusaha berperan dalam berbagai organisasi internasional. Untuk menunjukkan aspirasinya terhadap keinginan rakyat, kedutaan besar Libya diganti nama menjadi biro rakyat. Biro-biro rakyat, demikian juga lembaga-lembaga sosial, bisnis, dan agama dibuat untuk ekspor “revolusi”-nya Khadafi.
Sejak mengambil-alih kekuasaan pada 1969 lewat kudeta militer, Kolonel Muammar Khadafi telah membentuk sistem politiknya sendiri, yang diklaimnya sebagai gabungan dari sosialisme dan Islam, yang disebut oleh Khadafi sebagai Teori Internasional Ketiga (The Third International Theory). Khadafi membentuk dirinya sebagai pemimpin Revolusi. Selama tahun 1970-an sampai 80-an, dia menggunakan dana minyak untuk mempromosikan ideologinya keluar Libya. Dia juga banyak dituduh membantu tindakan-tindakan terorisme dan subversi di luar negeri. Dukungan Libya terhadap teroris berkurang setelah mendapat sanksi PBB tahun 1992 yang kemudian dibekukan pada April 1999.
Karena kegagalan nasionalisme Arab, Khadafi kemudian mengubah nama negaranya menjadi Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahariya atau al-Jumahariyah al-‘Arabiyyah al-Libiyah as-Shabiyah al-Ishtirakiyyah al-Uzma. Khadafi mengklaim negaranya sebagai Negara Jamahariya (Negara Rakyat). Akan tetapi, ini hanya secara teori, yang menyatakan diperintah oleh rakyat lewat dewan lokal. Faktanya, Libya adalah negara diktator militer.

Khadafi dan Gerakan Islam

Khadafi selama ini senantiasa memberangus aktivitas keislamanan yang mengancamnya dengan berbagai cara; antara lain lewat eksekusi, penghancuran rumah, dan hukuman massal. Dia sendiri memiliki hari istimewa untuk menggantung mahasiswa yang dianggapnya melawan dirinya di dalam kampus, yakni setiap tanggal 7 bulan April setiap tahunnya.
Anggapan bahwa Khadafi merupakan cerminan perlawanan ideologi Islam jelas sangat keliru. Khadafi sesungguhnya tidak lebih daripada penganut ideologi sosialisme yang tampak jelas dalam “kitab suci”-nya, Kitab Hijau. Namun demikian, sama seperti pemimpin-pemimpin sosialis Arab lainnya, Khadafi memanipulasi Islam untuk mendapat dukungan dari rakyat Libya yang mayoritas Muslim. Memang, banyak retorika-retorika Khadafi yang sepertinya sejalan dengan Islam. Namun demikian, Buku Hijau-nya membuktikan bahwa dia tidak lebih daripada seorang sosialis. Dia berusaha menggabung-gabungkan ide Islam dengan sosialisme, namun hasilnya adalah tetap saja ide sosialisme yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, Khadafi banyak melakukan pembantaian terhadap aktivis Islam yang dia anggap mengancam kedudukannya.
Pada awalnya, sangat kentara Khadafi ingin mendapat dukungan dari umat Islam dan para ulama. Tampak dari kata-katanya yang cukup populer pada saat itu, “Wahai rakyat, koyak-koyaklah semua buku impor yang tidak sesuai dengan (nilai-nilai) peninggalan Arab dan Islam, sosialisme, dan kemajuan.”
Untuk menampakkan citra Islamnya, Khadafi memberangus seluruh peninggalan kolonial Kristen Eropa di Libya; gereja-gereja ditutup, aktivitas misionaris dilarang, serta basis-basis militer Amerika dan Inggris ditutup. Khadafi juga menerapkan sebagian hukum Islam seperti melarang meminum alkohol dan penutupan kelab-kelab malam.
Pemikiran sosialisme lebih tampak pada saat dia menerbitkan Buku Hijau. Buku ini tidak jauh berbeda dengan Buku Merah-nya Mao Tse-tung. Buku ini sendiri terdiri dari tiga jilid: The Solution to The Problem of Democracy (1975); The Solution of The Economic Problem: Socialism (1977); dan Social Basis of The Third International Theory (1979). Khadafi kemudian menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi rakyat Libya yang diajarkan di sekolah-sekolah. Khadafi sering mengatakan bahwa bukunya itu didasarkan pada nilai-nilai Islam. Bahkan, dia menyatakan bahwa kaum Muslim harus berpegang teguh pada al-Quran. Padahal, bukunya itu justru memberikan pemecahan yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam politik, ia memberikan solusi demokrasi, padahal ide demokrasi yang mendasarkan diri pada kedaulatan rakyat bertentangan dengan Islam. Khadafi sendiri, dalam praktiknya, adalah seorang diktator. Sementara itu, dalam ekonomi, jusru dia memberikan solusi sosialisme yang bertentangan dengan Islam.
Ide-ide ganjilnya semakin tampak. Untuk membenarkan penafsirannya terhadap Islam, dia mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk menafsirkan Islam. Atas dasar ini, secara bebas (liberal) dia menafsirkan Islam seenaknya. Khadafi membatasi al-Quran hanya pada masalah individual, sementara dalam masalah sosial, ‘kitab suci’-nya adalah Buku Hijau. Dia juga menyampingkan hukum-hukum syariat yang dikatakannya sebagai ide-ide tradisional. Khadafi juga menolak keotentikan dan kekuatan yang mengikat dari Hadis Nabi saw., mengubah penanggalan Islam, menyatakan berhaji ke Makkah tidak wajib, dan menyamakan zakat dengan jaminan sosial. Zakat kemudian dia anggap bisa diubah-ubah dan bervariasi. Dia juga mengharamkan kepemilikan individu.
Tidak berhenti sampai di sana, Khadafi membentuk komite-komite rakyat untuk mengambil-alih masjid-masjid yang dia katakan tradisionalis. Tidak sedikit ulama ataupun pejuang Islam yang menentang ide-idenya kemudian dia bunuh dan dipenjarakan. Jangankan dengan Islam, dengan Buku Hijau-nya saja, yang mengatakan pengakuan terhadap kebebasan beragama dan demokrasi, Khadafi tidak menjalankannya. Ide kufur Khadafi yang lain yang dia lontarkan dalam pertemuan Arab (Arab Summit) pada April 2001 adalah meremehkan perjuangan al-Quds dan al-Aqsa yang penting. Pengarang Buku Hijau ini mencela negara-negara Arab yang terobsesi untuk membebaskan al-Quds dari penjajahan Israel. Dia berkata, “Kalian memecahkan masalah ini atau kalian tidak, itu hanyalah sebuah masjid dan saya bisa berdoa di mana pun. Tidaklah begitu penting di mana kita tinggal…Itu (al-Quds) juga merupakan tempat suci bagi Yahudi.”

Alat Kolonial Barat

Ada pola umum yang digunakan oleh Barat dalam mencengkeram Dunia Islam. Diantaranya adalah menciptakan penguasa-penguasa boneka yang memerintah negeri Islam. Penguasa ini kemudian diberikan dua orientasi: Pertama, secara terbuka menunjukkan ketertundukannya kepada Barat. Contoh pemimpin seperti ini adalah Raja Fahd, Raja Abdullah, Pemimpin Kuwait, Turki, dan negeri-negeri Islam lain. Kedua, dikesankan anti-Barat namun sebenarnya merupakan agen Barat. Contoh pemimpin seperti ini adalah Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Barat tentu saja berharap, sikap anti-Barat di Dunia Islam bisa disalurkan lewat kepemimpinan agen-agennya ini. Sebab, kalau sikap anti-Barat dipimpin oleh pemimpin yang benar, yakni pemimpin Islam yang sejati, hal itu akan membahayakan kedudukan Barat sendiri. Tidak aneh jika Barat memelihara orang-orang seperti Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Dua tipe agen Barat inilah yang menjadi media imperialisme Barat dan pembunuhan terhadap kaum Muslim. Sebentar lagi, bisa jadi kita menyaksikan serangan AS terhadap Irak. Alasannya adalah untuk menggusur pemimpin yang diktator. Padahal, Saddam Hussein, demikian juga Muammar Khadafi, adalah bentukan Barat. Walhasil, penguasa boneka semacam ini telah menjadi alat imperialisme Barat atas Dunia Islam

Ekonomi Amerika

Pertumbuhan ekonomi Amerika berkembang pesat di penghujung tahun 2010. Perkembangan ekonomi internasional China saat ini tampaknya memberikan keuntungan bagi Amerika untuk 2011 mendatang. Perusahaan-perusahaan Amerika juga mulai kembali menuai profit setelah mengalami masa-masa sulit paska krisis. Untuk tahun 2011, sebagian perusahaan besar Amerika juga telah menunjukkan optimisme, bahwa mereka akan mampu menunjukkan performa yang lebih baik lagi.
Menurut para pakar ekonomi, Amerika akan kembali menjadi sasaran investasi setelah perekonomian kembali normal. Selain negara-negara berkembang, beberapa manager investasi juga tampaknya sudah mulai mengincar Amerika sebagai tempat investasinya tahun depan. Bahkan beberapa ekonom berpendapat, semakin panjang ekonomi Amerika tertekan, maka perekonomian di negara tersebut akan kembali dengan denyut yang lebih kuat.
Di samping pengamatan yang optimistik, juga ada beberapa pendapatan yang berlawanan. Ada yang menganggap pertumbuhan Amerika masih terlalu lambat. Stimulus besar-besaran yang diberikan akan mempengaruhi kapan Fed akan menaikkan suku bunga, yang diyakini tidak akan terjadi di 2011 mendatang, termasuk kemungkinan pengetatan anggaran negara.

Apabila pemerintah Amerika menghentikan paket stimulus dalam beberapa bulan ke depan, ekonomi Amerika akan mengalami double dip recession, kata Profesor Iwan J. Azis, menjawab pertanyaan VOA tentang dampak krisis ekonomi Amerika terhadap ekonomi regional  Asia, termasuk Indonesia.
Namun, dosen dan direktur Studi Pasca Sarjana pada Universitas Cornell ini mengatakan, kelesuan ekonomi di Amerika  ini  justru meningkatkan cadangan devisa Indonesia berkat hot money  milik investor yang dialirkan ke  pasar bursa Asia,  termasuk pasar bursa Indonesia.
“Itulah yang menjelaskan mengapa cadangan devisa di negara-negara lain, mulai naik, termasuk Indonesia. Sayangnya, kenaikan cadangan devisa ini lebih banyak datang dari uang yang digolongkan sebagai uang panas (hot money).  Artinya uang itu datang ke Indonesia hari Senin tetapi kemudian pergi (dari Indonesia) hari Rabu. Ini bisa menimbulkan ketidakstabilan,” kata Profesor Iwan Azis.
Bank Indonesia, seperti dikutip situs International Business Times, memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada akhir tahun 2010 akan naik jadi 81,3  miliar dolar Amerika.

Perubahan Pola Perdagangan
Profesor Iwan mengatakan, krisis ekonomi  Amerika juga mengubah pola perdagangan barang setengah jadi dan barang jadi di Asia, termasuk Indonesia.   Selama ini,  Amerika merupakan pasar tradisional bagi barang jadi Indonesia. “Pemerintah Indonesia sebaiknya mencari pasar baru untuk barang jadi Indonesia. Pendapatan ekspor lebih menjamin stabilitas daripada investasi hot money di pasar bursa,” kata Profesor Iwan.
Di tingkat regional, ASEAN mengekspor bahan baku dan barang setengah jadi ke Tiongkok, yang dikenal sebagai pabrik dunia. Barang jadi itu kemudian di jual ke Amerika dan Eropa.  Kini, Tiongkok berusaha keras untuk mencari pasar-pasar yang baru.
Tak Ubah Persepsi
Profesor Iwan mengatakan, krisis ekonomi Amerika tidak mengubah persepsi masyarakat internasional akan status Amerika sebagai negara adikuasa karena ukuran ekonomi negeri ini  masih yang terbesar di dunia.
“Ada keyakinan bahwa pemerintah Amerika tak akan ngemplang utang orang dalam investasi portfolio. Orang tak pernah berpikir bahwa pemerintah Amerika akan melakukan sesuatu seperti yang dilakukan pemerintah Argentina tahun 2002, ” kata Profesor Iwan.
Profesor Iwan Jaya Aziz
Agar mendapatkan pemahaman yang lebih luas, berikut ini wawancara dengan Profesor Iwan J. Azis.
Departemen Perdagangan Amerika baru saja mengumumkan ekonomi Amerika tumbuh melambat 2,4 persen di kuartal kedua. Alasan perlambatannya tidak dijelaskan secara rinci di media massa. Pak Aziz bisa menjelaskannya?
Ada dua faktor. Pertama adalah berakhirnya paket stimulus. Kita bisa membayangkan,  ekonomi yang digelontori triliunan dolar  ---  seperti yang terjadi di Amerika sejak lebih dari setahun yang lalu ---  akan tumbuh tinggi.  Tetapi,  begitu stimulus triliunan dolar itu  diambil (dihentikan),  pertumbuhan ekonomi akan melambat. Itu jawaban pertama.
Jawaban kedua dari sudut investor.  Sekarang (ini) stock dan  inventory mereka mulai penuh sehingga mereka tak perlu menambah stok. Akibatnya, permintaan dari mereka pun,  menurun. (Hal) itu menjelaskan mengapa terjadi penurunan/perlambatan (pada ekonomi Amerika).
Bagaimana Pak Iwan menjelaskan,  impor meningkat di pasar Amerika yang lesu?
Impor itu  intinya ada dua kategori yaitu impor barang konsumsi dan impor barang modal atau intermediate goods. Kalau barang konsumsi itu, memang,  sudah beberapa dasawarsa  di Amerika. Gejala itu disebut low domestic elasticity  artinya kontribusi produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik,  sangat kecil.
Kalau ada permintaan yang naik di Amerika, bisa saja permintaan itu permintaan konsumen, bisa juga permintaan investor, selalu dipenuhi oleh pasokan  dari luar negeri. Ambil contoh: konsumsi, misalnya permintaan konsumsi naik. Barang konsumsi yang dibeli konsumen  banyak yang import.  Faktornya antara lain adalah harga. Contoh banyak barang konsumsi datang dari Asia, khususnya dari Tiongkok   karena harganya lebih murah.
Barang modal pun demikian juga. Jadi, intermediate goods yang diminta atau dipakai oleh industri-industri Amerika masih cukup banyak yang diimpor sehingga  itu yang menjelaskan mengapa setiap kali ada sedikit saja permintaan dari dalam negeri di Amerika, diisi oleh impor.
Apa yang akan terjadi bila tak ada stimulus dalam 12 bulan ke depan?
Double dip recession (krisis baru terjadi menyusul pertumbuhan ekonomi yang dipicu paket stimulus). Meskipun pertumbuhan ini tidak melambat, saya menduga angka pengangguran akan tetap tinggi paling tidak antara 7 hingga 8 tahun ke depan. Nah sekarang,  dengan melambatnya ekonomi, pengangguran itu akan berlangsung lebih lama lagi, mungkin satu dasawarsa lagi,  barulah angka pengangguran itu menurun lagi. Yang paling berat (dalam krisis ini) adalah lapangan pekerjaan.

AFP Photo
Angka pengangguran di AS diperkirakan akan tetap tinggi dalam 7 hingga 8 tahun mendatang.
Kalau sudah menyangkut unemployment, itu menjadi barang baru lagi karena itu akan mempengaruhi confidence dari pasar, confidence konsumen mau pun investor. Dan kalau kita gabung stimulus package yang dikurangi dan confidence pasar yang menurun,  itu akan membuat double digit recession.
Kalau Amerika seperti ini, konfigurasi supply and demand berubah. Apa  yang dilakukan negara lain?
Kalau dari sudut pasar, untuk menjual barang-barang ekspor mereka (negara-negara lain),  memang Amerika tak bisa diandalkan lagi. Negara-negara Asia, khususnya Tiongkok,  harus berpikir keras untuk mencari pasar baru karena selama ini, pasar tradisional mereka adalah Amerika dan Eropa. Apalagi untuk 10 atau 20 tahun ke depan, kedua pasar itu tak bisa diandalkan lagi.
Tetapi,  kalau dari sudut kepercayaan terhadap mata uang Amerika, selama ini masih cukup besar dan itu yang menjelaskan mengapa nilai dolar itu tidak ambruk. Memang terjadi depresiasi tetapi tidak ambruk. Padahal di seluruh dunia, kalau krisis seperti yang terjadi di Amerika, nilai tukar pasti ambruk.
Faktor non-ekonomi apa yang membuat dunia internasional masih menaruh kepercayaan kepada Amerika meski dolar mengalami depresiasi dan ekonominya mengalami krisis?
Suka atau tak suka, Amerika adalah negara adidaya. Jadi, Amerika masih (merupakan)  ekonomi terbesar di dunia dan juga ada keyakinan  bahwa American government will never default (ngemplang utang orang).  Ini saya pikir cukup merata ini. Tak ada negara yang membayangkan, pemerintah Amerika akan mendefault utang-utang mereka. Jadi kalau Anda menaruh uang di Amerika, misalnya Anda membeli bonds atau obligasi dari pemerintah Amerika, Anda pasti yakin bahwa itu akan terbayar. Karena Anda tak pernah akan berpikir bahwa pemerintah Amerika akan melakukan sesuatu seperti yang dilakukan pemerintah Argentina tahun 2002 itu. Ada keyakinan seperti itu bahwa pemerintah tidak akan men- default their debts.
Apakah tingginya niat investor asing membeli  obligasi pemerintah Amerika juga ikut mempengaruhi kepercayaan investor asing menanam modal di sektor riil di sini?
Agak sulit. Mengapa? Karena investor itu pada dasarnya ingin mencari keuntungan dan keuntungan itu berasal dari hasil penjualan produknya. Investasi tak akan terjadi,  kalau domestic market di Amerika masih ditandai oleh pengangguran tinggi dan daya beli masyarakat masih relative rendah. Apalagi ada gejala menarik yakni konsumen Amerika sekarang ini melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan waktu ekonomi booming tetapi   justru dilakukan sekarang yaitu saving. They are doing thing at the wrong time. Seharusnya sekarang ini orang Amerika harus membelanjakan uang karena 70 persen dari ekonomi Amerika berasal dari konsumsi. Secara konsep, melakukan investasi memang hal (yang) baik yang seharusnya terjadi. Yang saya khawatir adalah lebih banyak investasi bukan dalam bentuk  FDI (foreign direct investment) tetapi dalam bentuk portfolio, yakni membeli obligasi pemerintah Amerika.
Ketika ekonomi Amerika seperti ini, apa yang dilakukan pengusaha dan pemerintah  Indonesia?
Indonesia harus berpikir keras untuk mencari alternative traditional market karena selama ini suka atau tak suka pola perdagangan  di Asia termasuk Indonesia ada dua. Pertama, untuk barang setengah jadi   atau intermediate goods, pola perdagangannya   yang terbesar adalah antara Asia  sendiri. Misalnya ASEAN mengekspor bahan baku dan intermediate goods ke Tiongkok kemudian diproses  menjadi barang jadi. Kemudian, barang jadi itu   dijual ke Eropa dan Amerika. Kedua, untuk barang jadi, pasar tradisional Indonesia adalah Amerika dan Eropa. Jadi, implikasi dari apa yang terjadi di Amerika dan Eropa sekarang yaitu resesi dan melemahnya perekonomian mereka  itu adalah negara Asia  mencari pasar baru dan pasar baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah mereka sendiri. Itulah sebabnya intra regional trade di Asia harus naik untuk dua jenis barang ini yakni intermediate goods dan final goods.
Yang kedua adalah jalur finance: akibat dari apa yang terjadi di Amerika dan Eropa, pemilik modal mencari destinasi  yang lebih aman dan menjanjikan return yang lebih tinggi. Jawabannya adalah emerging market termasuk Asia. Itulah yang menjelaskan mengapa cadangan devisa di negara-negara lain, mulai naik, termasuk Indonesia. Nah sayangnya, kenaikan cadangan devisa itu, lebih banyak karena uang-uang yang saya katakan tadi sebagai hot money. Artinya uang itu datang (ke Indonesia) hari Senin lalu pergi (dari Indonesia) hari Rabu. Ini bisa terjadi ketidakstabilan. Jadi, seharusnya yang ideal adalah kenaikan devisa karena ekpsor. Tetapi karena perkembangan di Eropa, sekarang ini banyak sekali hot money masuk ke asia.
Reformasi Wall Street. Seberapa cepat pengaruhnya dirasakan?
Pengaruhnya jangka panjang. Karena sebetulnya itu semacam mengoreksi diri karena selama ini terlalu bebas terutama untuk investment bank termasuk hedge funds. Sangat bebas pergerakan mereka sehingga mereka melakukan hal-hal yang spekulatif dan itulah  salah satu penyebab dari krisis yang terjadi di Amerika.
Financial regulation yang dikeluarkan pemerintahan Presiden Obama ini merupakan upaya untuk mencegah terjadinya lagi peristiwa seperti dua tahun yang lalu itu.. Dari sudut itu, reformasi itu ada benarnya. Namun, bila dilihat dari sudut recovery, pengaruhnya belum terasa karena hasilnya baru terlihat dalam jangka panjang.

Krisis Timur Tengah

Rontoknya bursa saham dan terdepresiasinya mata uang regional menjadi pemicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Meningkatnya tensi krisis di negara – negara penghasil minyak di Timur Tengah sangat positif bagi penguatan dolar terhadap mata uang Asia karena dianggap lebih beresiko pada saat ini.

Pada transaksi kemarin rupiah ditutup di level 8.879 per dolar AS, atau melemah 22 poin (0,25 persen) dari penutupan sehari sebelumnya.

Analis ekonomi dari PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengemukakan meningkatnya kecemasan para pelaku pasar terhadap gejolak politik di Timur Tengah dan Afrika Utara membuat mata uang lokal melemah dan gagal melanjutkan penguatan.

“Adanya ketidakpastian di kawasan Timur Tengah menguntungakan dolar, karena para investor lebih memilih untuk memegang uang tunai dalam bentuk dolar AS yang dianggap lebih aman disaat seperti ini,” kata Lana.

Kekhawatiran tidak hanya terjadi dipasar uang tetapi juga dibursa saham global termasuk bursa Jakarta dimana indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih dari 46 poin ke level 3.451.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyulut harga minyak jenis Brent naik diatas US$ 105 per barel dan minyak mentah WTI berada di US$ 93 per barel.

Lana memprediksikan rupiah hari ini masih akan melanjutkan pelemahan dengan kisaran antara 8.880 hingga 8.890 per dolar AS. “Masih kuatnya kekhawatiran terhadap kondisi di Lybia dan negara sekitarnya membuat permintaan dolar AS akan meningkat sehingga akan menekan mata uang Asia dan tidak terkecuali rupiah,” papar Lana.

Ketika pecah kerusuhan di Tasikmalaya, Situbondo dan Rengasdengklok (1996) dan kemudian di Ambon dan Poso (1999) banyak pakar-pakar Melayu (termasuk saya sendiri) dan internasional juga, yang langsung menganalisis dan menyimpulkan bahwa itu bukanlah masalah agama. Demikian pula ketika FPI menyerbu kantor majalah Playboy dan massa yang terdiri dari ribuan orang berunjuk rasa pro RUU-APP, banyak yang hakul yakin bahwa itu hanya ulahnya sekelompok orang yang mengatas namakan agama. Tentu ada motif-motif lain di balik isyu "agama" itu. Mungkin politis, dan sangat boleh jadi ekonomi (termasuk uang demo Rp 15.000 sehari).
Tetapi ketika beberapa minggu yang lalu saya melihat tayangan breaking news CNN dan BBC tentang pesawat-pesawat udara Israel yang membomi Libanon tanpa perikemanusiaan, dan menimbulkan korban luar biasa di kalangan penduduk sipil, termasuk anak-anak dan wanita, saya terperanjat bukan main dan mulai berpikir bahwa jangan-jangan analisis saya selama ini salah (untungnya saya tidak sendirian, karena pakar-pakar ilmu sosial, termasuk para pakar ilmu agama dan tokoh agama sependapat dengan saya). Tidak mungkin kalau hanya sekedar bertujuan politik atau ekonomi (konon untuk menjaga kepentingan AS akan ladang-ladang minyak di Timur Tengah), orang-orang Israel akan tega menyaksikan tayangan TV yang terus-menerus tentang anak-anak kecil berteriak-teriak ketakutan, menjerit-jerit karena luka, bahkan ada yang terkapar mati dengan wajahnya yang masih tersenyum lucu, sementara orantguanya menangis meraung-raung. Orang Israel juga manusia, punya hati punya rasa (mengutip syair lagu pop-rock). Hanya satu yang bisa membuat orang kehilangan hati dan perasaannya seperti itu, yaitu keyakinan akan sesuatu kebenaran yang dianggapnya sangat mutlak.
Di jaman Lon Nol, anggota-anggota pasukan Khmer Merah, dengan santai membelah perut ibu yang sedang hamil hidup-hidup karena keyakinannya bahwa begitulah caranya untuk membasmi imperisalisme dan kapitalisme Amerika. Ideologi mereka pada waktu itu adalah komunis, sama dengan PKI-PKI yang konon membantai rakyat jelata di pemberontakan Madiun 1948, maupun pada peristiwa G-30-S 1965. Tetapi bukan komunisme saja yang bisa mendorong manusia gelapmata seperti itu. Nasionalisme Serbia menyebabkan tentara ex-anak buah Tito itu membabat etnik Bosnia habis-habisanm, dan di zamannya Hitler, nasionalisme Jerman (Nazi) telah menyebabkan pramuka-pramuka Jerman (Hitler Jugend) tega melaporkan tetangga teman mainnya yang kebetulan Yahudi ke Gestapo.

Ketahanan Ekonomi

Definisi ketahanan ekonomi. Ketahanan ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang dating dari dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun tidak langsung menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu ikli usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.

Krisis Yunani memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Kedisiplinan dalam menjaga kebijakan fiskal ternyata menentukan stabilitas perekonomian suatu negara. Krisis yang terjadi di Eropa belakangan ini kembali membuat kita perlu memperkuat fundamental ekonomi karena ancaman krisis global akan terus terjadi. Beberapa dampak krisis keuangan global dapat berupa berfluktuasinya indeks harga saham, imbal hasil (yield) surat utang negara dan credit default swap (CDS). Dari sektor riil, derivasi krisis keuangan berpotensi menurunkan target penyerapan tenaga kerja nasional. 

Beberapa hari ini kita mengalami keresahan yang serupa. Geliat pasar yang ramai di bulan Maret, April, menjadi lesu di bulan Mei ini. Ada sekitar Rp 400 triliun dana asing yang sudah pindah keluar negeri, dari pasar saham dan dialihkan ke investasi lain yang lebih terukur risikonya. Fenomena yang kemudian menurunkan nilai rupiah ke titik Rp Rp 9.300 per dolar AS ini adalah reaksi dari keraguan pasar akibat krisis Yunani dan negara-negara Eropa lainnya yang masih dikhawatirkan akan memengaruhi perekonomian dunia.

Ancaman krisis keuangan akan selalu terjadi sebagai konsekwensi logis dari sistem ekonomi dunia yang terintegrasi. Maka kita perlu membangun ketahanan ekonomi nasional (resilient) dari ketidakpastian-permanen (permanent uncertainty) ekonomi global. Dinamika yang terjadi di pasar karena permanent uncertainty perlu dikelola keseimbangannya, sehingga dapat mencapai stabilitas yang mendukung pembangunan ekonomi. Stabilitas ini dibutuhkan, sehingga pelaku pasar dapat memperkirakan risiko dalam berinvestasi di Indonesia. Singkatnya, tingginya ketidakpastian akibat dari rentannya ketahanan ekonomi nasional dapat berakibat pada semakin tingginya risiko untuk berinvestasi di Indonesia, yang dapat menghambat pembangunan ekonomi, terutama di sektor riil.

Dalam perspektif sektor keuangan, maka penerapan kebijakan fiskal yang sangat hati-hati akan dapat menahan external-shock dengan baik. Kebijakan untuk tetap mempertahankan defisit anggaran pada kisaran 2,1 persen dari PDB (Rp 133,7 triliun), dapat memompa ekonomi nasional untuk tumbuh (growth) secara berimbang dengan tetap memperhatikan target inflasi. Belajar dari pengalaman Yunani, krisis terjadi karena kurangnya prinsip kehati-hatian dalam menetapkan besaran kebijakan fiskal, sehingga akhirnya berpengaruh kepada kemampuan negara untuk memperoleh pendanaan dalam membiayai anggaran dan ditambah dengan besarnya kebutuhan untuk membiayai hutang yang dimiliki.

Hal yang paling dikhawatirkan dari dampak krisis ekonomi adalah kelangkaan 'likuiditas', baik di tingkat global maupun nasional. Pemilik modal akan menahan untuk berinvestasi sampai kondisi dirasa kondusif untuk menjamin tingkat pengembalian (return). Untuk mengantisipasi permasalahan ini, dibutuhkan hubungan yang baik dengan berbagai lembaga keuangan yang dapat menjadi rekan untuk membantu likuiditas sehingga krisis tidak berimbas kepada negara-negara lainnya. Dalam konteks regional, krisis yang terjadi di suatu negara, seperti di Yunani, menjadi tanggung jawab tidak hanya pemerintah negara Eropa, tetapi juga negara tetangganya, seperti Jerman. Aksi yang responsif yang dilakukan oleh negara-negara tetangga ini juga menjadi penting perannya dalam mengantisipasi krisis ekonomi.  

Selain dukungan dari lembaga keuangan dan negara-negara tetangga yang mempunyai hubungan dagang yang strategis, kebijakan pemerintah juga perlu diambil untuk lebih mengefektivitaskan pengeluaran pemerintah. Pengeluaran ini diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menumbuhkan usaha dan menyerap tenaga kerja. Investasi sektor riil perlu didorong untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan menjamin supply barang dan jasa. Sementara penyerapan tenaga kerja dilakukan untuk tetap menjamin kemampuan daya beli masyarakat. Belajar dari krisis ekonomi tahun 2008, maka stimulus fiskal mempunyai peran dalam mengakselarasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri saat banyak sektor swasta yang menahan aktivitas usahanya karena ketidakpastian dan risiko yang tinggi.

Krisis yang terjadi juga akan menurunkan permintaan, sehingga untuk negara-negara yang berorientasi ekspor, krisis ekonomi di negara mitra dagang akan menurunkan permintaan dari negara tersebut. Dalam upaya untuk menahan laju perlambatan ekspor, perlu dilakukan beberapa langkah strategis. Pemeritnah perlu melakukan penguatan ekspor melalui diversifikasi pasar dan tujuan ekspor. Misalnya, pemerintah mengambil langkah yang dapat mengurangi ketergantungan (dependency) akan suatu pasar ekspor.

Pemberian insentif berupa pengurangan pajak ekspor, bantuan pembiayaan melalui pembelian Wesel Ekspo Berjangka (WEP), penyederhanaan prosedur ekspor dan perbaikan infrastruktur dapat membantu para eksportir untuk memperluas pasar mereka. Infrastruktur dan pengurangan berbagai pajak ini sudah pernah dilakukan oleh banyak negara ketika mengalami krisis 2008. Indonesia juga mengalokasikan dana untuk stimulus fiskal yang dipakai untuk membangun infrastruktur, selain timulus pajak. China mengalokasikan jumlah besar untuk pembangunan infrastruktur.

Kebijakan untuk komposisi alokasi stimulus fiskal juga perlu disesuaikan dengan nature perekonomian Indonesia. Berapa besar leverage dari stimulus fiskal terhadap pembukaan lapangan kerja di Indonesia, dan tenaga kerja mana yang disasar adalah pekerjaan rumah yang tidak kalah sulitnya bagi pemerintah. Pilihan kebijakan untuk direct spending dibandingkan dengan stimulus pajak mempunyai implikasi masing-masing. Belajar dari krisis 2008, maka pemerintah perlu mempertimbangkan besaran direct spending untuk infrastruktur yang implikasinya langsung diterima sektor riil. Selain itu, kebijakan ini juga perlu didukung oleh kinerja kementerian lainnya, seperti PU (Pekerjaan Umum) yang mempunyai tugas untuk merealisasikan dana untuk membangun infrastruktur ini. 

Akhirnya, dalam sistem ekonomi yang digerakkan oleh 'sentimen-pasar', kita perlu menjaga momentum optimisme ekonomi Indonesia di tengah-tengah ancaman krisis ekonomi dunia. Capital outflow merupkan ancaman serius akibat dampak krisis ekonomi di tempat lain. Walaupun memang capital outflow ini terdiri dari dana investor yang bermain di sektor keuangan, pengaruh dari sentimen negatif terhadap pasar akan memberikan efek perlambatan keyakinan terhadap investasi-investasi di sektor riil lainnya.

Sentimen negatif ini menurunkan IHSG dan terdepresiasinya nilai tukar mata uang rupiah. Ini nantinya akan berdampak pada sektor produksi dalam negeri, terutama mereka yang menggunakan komponen impor dalam jumlah besar. Meningkatnya biaya produksi ini akan menurunkan daya saing produk kita dibandingkan negara lainnya. Belum lagi ancaman produk lain yang masuk ke Indonesia seiring dengan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) akan semakin membuat kita perlu bekerja keras dan cermat mengelola berbagai instrumen keuangan yang dapat memitigasi pengaruh global terhadap sektor keuangan dan sentimen negatif yang dapat ditimbulkan.

Sebagai penutup, stabilitas politik perlu kita jaga bersama. Karena hal ini dapat menjaga stabilitas bagi perekonomian regional. Di kawasan ASEAN, politik yang sedang terjadi di Thailand dapat berdampak positif sekaligus juga berpotensi negatif bagi Indonesia. Positif karena Indonesia mendapatkan limpahan modal investasi dan turis akibat destabilitas politik yang terjadi. Namun, pada saat yang bersamaan muncul pemahaman bahwa destabilitas politik akan dapat saja terjadi di Indonesia. Apabila hal ini terjadi, maka akan berdampak pada pegurangan investasi baik dalam pasar uang maupun sektor riil (foreign direct investment).

Berbagai faktor, seperti ketahanan ekonomi nasional terhadap krisis luar negeri yang mempegaruhi sentimen negatif di sektor keuangan, pilihan kebijakan stimulus fiskal yang dapat mengakselarasi pertumbuhan, dan peran sektor riil yang mempunyai daya tahan dalam mendukung keunggulan daya saing dan stabilitas politik regional dan nasional adalah beberapa faktor yang perlu dikelola oleh pemerintah, DPR, LSM dan masyarakat luas. Dengan begitu kita dapat menunjukkan kepada dunia bahwa perekonomian di Indonesia sangatlah kondusif dan memberikan insentif yang cukup untuk siapapun yang ingin berinvestasi dan memberikan kontribusi bagi pembangunan perekonomian Indonesia.

Neraca Pembayaran, Arus Modal Asing, dan Utang Luar Negeri

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 13


1.   Neraca Pembayaran

Neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial.
Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua macam transaksi :
Transaksi debit, yaitu transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini disebut transaksi negatif (-), yaitu transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa.
Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. Transaksi ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi yang menyebabkan bertambahnya posisi cadangan devisa negara.

2.   Arus Modal Masuk

Anggota Komite Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan masih derasnya arus modal masuk ke Indonesia ini bukan karena adanya gelembung ekonomi, tapi karena Indonesia memang dianggap memberi prospek yang baik terhadap para investor. "Tapi karena prospek Indonesia yang tumbuh lebih cepat”.

Indonesia, oleh para investor negara-negara maju tersebut, dinilai masih akan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditawarkan negara-negara maju.

Ada beberapa faktor yang membuat rupiah akan terus menguat, pertama ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat, adanya perbaikan peringkat surat utang Indonesia, dan suku bunga di dunia masih belum akan meningkat secara signifikan, ini karena negara-negara maju masih memerlukan stimulus dari sisi moneter.

Selain itu, bank sentral Amerika Serikat masih akan melakukan kebijakan quantitative easing atau kebijakan menggelontorkan uang ke sistem perekonomian pada 2011.

The Fed telah menyatakan akan membeli kembali surat utang pemerintah Amerika di pasar sekunder hingga US$ 600 miliar pada 2011. Akibatnya, suplai dolar di Amerika Serikat dan di pasar dunia akan terus meningkat.
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan arus modal asing akan terus deras masuk sampai akhir tahun 2010. Setidaknya ada 2 alasan mengapa aliran modal akan tetap masuk ke Indonesia.

Sepanjang tahun ini kalau tidak ada sentimen negatif, kecuali di Eropa terjadi seperti kemarin lagi. Maka arahnya arus modal akan masuk terus masuk.
Salah satu faktor derasnya aliran modal ke Indonesia karena pertumbuhan ekonomi lebih bagus di negara-negara emerging market daripada negara maju.
Disana (negara maju), pertumbuhan ekonomi di Eropa hanya 1 %, Amerika hanya 3 %. Namun di Asia 6% sampai 8%, ada juga yang 10%. Itu saja sudah membuat modal tertarik masuk.
Faktor yang kedua, lanjut Darmin yakni tingkat suku bunga. Saat ini, menurut Darmin, negara-negara Eropa masih menahan tingkat bunganya di kisaran 1%. Sementara India diatas 5%, Indonesia 6,5%. Ya datang dia (arus modal).

3.   Utang Luar Negeri

Utang luar negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian dari total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut. Penerima utang luar negeri dapat berupa pemerintah, perusahaan, atau perorangan. Bentuk utang dapat berupa uang yang diperoleh dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Jumlah dan asal utang Indonesia
Utang luar negeri Indonesia lebih didominasi oleh utang swasta. Berdasarkan data di Bank Indonesia, posisi utang luar negeri pada Maret 2006 tercatat US$ 134 miliar, pada Juni 2006 tercatat US$ 129 miliar dan Desember 2006 tercatat US$ 125,25 miliar. Sedangkan untuk utang swasta tercatat meningkat dari US$ 50,05 miliar pada September 2006 menjadi US$ 51,13 miliar pada Desember 2006.[1]
Negara-negara donor bagi Indonesia adalah:
1.      Jepang merupakan kreditur terbesar dengan USD 15,58 miliar.
2.      Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USS 9,106 miliar
3.      Bank Dunia (World Bank) sebesar USD 8,103 miliar.
4.      Jerman dengan USD 3,809 miliar, Amerika Serikat USD 3,545 miliar
5.      Pihak lain, baik bilateral maupun multilateral sebesar USD 16,388 miliar.

Pembayaran utang
Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun. Jumlah utang negara Indonesia kepada sejumlah negara asing (negara donor)di luar negeri pada posisi finansial 2006, mengalami penurunan sejak 2004 lalu sehingga utang luar negeri Indonesia kini 'tinggal' USD 125.258 juta atau sekitar Rp1250 triliun lebih.

Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan.

Kebijakan Perdagangan Luar Negeri

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 12


Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.
Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.

Manfaat perdagangan internasional

Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut.
  • Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
    Banyak faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut di antaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
  • Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
    Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
  • Memperluas pasar dan menambah keuntungan
    Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri.
  • Transfer teknologi modern
    Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern.

[sunting] Faktor pendorong

Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut :





Industrialisasi

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 9

Jakarta, 21/5/2010 (Kominfo-Newsroom) – Deputi Bidang EkonomiBappenas Slamet Senoadji mengatakan, meski Indonesia masuk dalampersaingan pasar bebas kawasan ASEAN-China melalui ACFTA danpertumbuhan sektor investasi melambat, namun sektor industrinasional masih bisa tumbuh antara empat hingga lima persen padatahun 2010.
Pertumbuhan itu tertolong oleh kuatnya ekonomi domestik nasionalyang ditimbulkan oleh tingkat kosumsi dalam negeri yang masihbergerak hingga lima persen, katanya dalam sebuah acara seminar diKompleks DPR RI Jakarta, Jumat (21/5).

Ia menambahkan juga bahwa pertumbuhan itu juga didorong olehstabilnya sektor pertanian yang selama ini menjadi leading sektor,serta tingginya pertumbuhan sektor transportasi.
Diakuinya bahwa bahwa pada tahun 2009 pertumbuhan industrimenurun sekitar 1,47 persen dibanding tahun 2008 yang tumbuhsebesar 3,01persen, dan tahun 2007 yang naik sebesar 5,57persen.
Namun pada kwartal I tahun 2010 ini pertumbuhan kembali naikmenjadi empat persen, dan diharapkan pada kuartal berikutnya bisalebih tinggi lagi, kata Slamet Senoajdi
Menurut dia, ke depannya, pada periode tahun 2010-2012,pemerintah akan mengupayakan peningkatan investasi dan ekspor,sedangkan di bidang sektoral industri harus ditingkatkan, karenabidang ini lah yang akan mampu menyelamatkan pertumbuhan ekonomiIndonesia.

Dikemukakan bahwa dalam produk domestik bruto (PDB), bidangindustri berkonstribusi sebesar 25-26 persen, namun hal itu diakuiterjadi penurunan dibandingkan tahun2004 yang mencapai 28 persen,sehingga peran industri memang sangat besar kalau dilihat dari segiPDB.
Menurut dia, kalau pemerintah mampu meningkatkan bidangindustri, meski dalam kondisi pasar bebas, pertumbuhan ekonomi akantumbuh lebih baik, dan akan menjadi lokomotif pergerakan ekonomiIndonesia.
Saat ini ada empat sub sektor ekonomi yang dominan, yaitumakanan, minuman, alat angkutan dan pupuk, yang kesemuanyamendukung 80 persen dari total sektor industri non migas,katanya.
Sedangkan dari bidang serapan tenaga kerja dari rendahnyapertumbuhan industri sejak tahun 2004-2009 dari 10 juta tenagakerja, penambahan hanya 900 ribu/lima tahun, sehingga hal ini perluada peningkatan bidang industri agar serapan tenaga kerja bisalebih banyak lagi.

Cukup penting bagi pemerintah untuk mendorong industri yangbanyak membutuhkan tenaga kerja, dan caranya adalah denganmeningkatkan dan memperbaiki regulasi mengenai ketenagakerjaan,sehingga masalah penurunan biaya dan tenaga kerja outsourcing padatahun 2010 diharapkan bisa selesai, kata Slamet Senoadji.
Mengenai ekspor non migas, katanya, sudah cukup tinggi, karenapada tahun 2004 mencapai 48,7 miliar dollar AS, dan tahun 2008sebesar 88,4 miliar dollar AS, meskipun pada tahun 2009 kembaliturun akibat krisis global, yaitu hanya sebesar 71 miliar dollarAS.
Sedangkan pada kuartal I tahun 2010 nilai ekspor mencapai 21,1miliar dollar AS, atau naik sekitar 37,7 persen dibanding kuartal Itahun 2009, katanya. (gro/ysoel)



Jakarta, 21/5/2010 (Kominfo-Newsroom) – Deputi Bidang EkonomiBappenas Slamet Senoadji mengatakan, meski Indonesia masuk dalampersaingan pasar bebas kawasan ASEAN-China melalui ACFTA danpertumbuhan sektor investasi melambat, namun sektor industrinasional masih bisa tumbuh antara empat hingga lima persen padatahun 2010.
Pertumbuhan itu tertolong oleh kuatnya ekonomi domestik nasionalyang ditimbulkan oleh tingkat kosumsi dalam negeri yang masihbergerak hingga lima persen, katanya dalam sebuah acara seminar diKompleks DPR RI Jakarta, Jumat (21/5).
Ia menambahkan juga bahwa pertumbuhan itu juga didorong olehstabilnya sektor pertanian yang selama ini menjadi leading sektor,serta tingginya pertumbuhan sektor transportasi.
Diakuinya bahwa bahwa pada tahun 2009 pertumbuhan industrimenurun sekitar 1,47 persen dibanding tahun 2008 yang tumbuhsebesar 3,01persen, dan tahun 2007 yang naik sebesar 5,57persen.
Namun pada kwartal I tahun 2010 ini pertumbuhan kembali naikmenjadi empat persen, dan diharapkan pada kuartal berikutnya bisalebih tinggi lagi, kata Slamet Senoajdi
Menurut dia, ke depannya, pada periode tahun 2010-2012,pemerintah akan mengupayakan peningkatan investasi dan ekspor,sedangkan di bidang sektoral industri harus ditingkatkan, karenabidang ini lah yang akan mampu menyelamatkan pertumbuhan ekonomiIndonesia.

Dikemukakan bahwa dalam produk domestik bruto (PDB), bidangindustri berkonstribusi sebesar 25-26 persen, namun hal itu diakuiterjadi penurunan dibandingkan tahun2004 yang mencapai 28 persen,sehingga peran industri memang sangat besar kalau dilihat dari segiPDB.
Menurut dia, kalau pemerintah mampu meningkatkan bidangindustri, meski dalam kondisi pasar bebas, pertumbuhan ekonomi akantumbuh lebih baik, dan akan menjadi lokomotif pergerakan ekonomiIndonesia.
Saat ini ada empat sub sektor ekonomi yang dominan, yaitumakanan, minuman, alat angkutan dan pupuk, yang kesemuanyamendukung 80 persen dari total sektor industri non migas,katanya.
Sedangkan dari bidang serapan tenaga kerja dari rendahnyapertumbuhan industri sejak tahun 2004-2009 dari 10 juta tenagakerja, penambahan hanya 900 ribu/lima tahun, sehingga hal ini perluada peningkatan bidang industri agar serapan tenaga kerja bisalebih banyak lagi.

Cukup penting bagi pemerintah untuk mendorong industri yangbanyak membutuhkan tenaga kerja, dan caranya adalah denganmeningkatkan dan memperbaiki regulasi mengenai ketenagakerjaan,sehingga masalah penurunan biaya dan tenaga kerja outsourcing padatahun 2010 diharapkan bisa selesai, kata Slamet Senoadji.
Mengenai ekspor non migas, katanya, sudah cukup tinggi, karenapada tahun 2004 mencapai 48,7 miliar dollar AS, dan tahun 2008sebesar 88,4 miliar dollar AS, meskipun pada tahun 2009 kembaliturun akibat krisis global, yaitu hanya sebesar 71 miliar dollarAS.
Sedangkan pada kuartal I tahun 2010 nilai ekspor mencapai 21,1miliar dollar AS, atau naik sekitar 37,7 persen dibanding kuartal Itahun 2009, katanya. (gro/ysoel)



Mencari Data statistic PDB Berdasarkan Sektor

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 8


Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada Triwulan I-2011 ...Berita Resmi Statistik No. 52/08/Th. XIII, 5 Agustus 2010 1 No. 52/08/Th. XIII, 5 Agustus 2010 P ERTUMBUHAN E KONOMI I NDONESIA T RIWULAN II-2010 EKONOMI INDONESIA ...Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 1; Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2009 ...Berita Resmi Statistik No. 71/11/Th. XIII, 5 November 2010 1; Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan III-2010 meningkat sebesar 3,5 persen terhadap ...Berita Resmi Statistik No. 11/02/Th. XII, 16 Februari 2009 1; Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008 meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2007 ...
STATISTIK MAKRO. SEKTOR PERTANIAN. Daftar Tabel : KATA PENGANTAR. Lanjutan Daftar Tabel. PDB: ... Kredit Sektor Ekonomi Menurut Sektor dan Jenis Penggunaan 2008-2010 ...Preview and download documents about sektor pertanian. Docstoc is a community for sharing professional documents, find free documents and upload documents to share.ANTARAnews.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan, mengatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) berdasar harga berlaku pada 2010 minimal Rp6.300 triliun.Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada Triwulan II-2010 mencapai Rp1.572,4 triliun, ... Sektor pertanian pada Triwulan II-2010 tumbuh 3,4 persen, setelah ...triliun atau sebesar 24,4 persen dari total PDB, kemudian Sektor Pertanian Rp272,1 triliun ... III-2010 yaitu Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor .



Tujuan Pembangunan Pertanian
Tujuan akhir pembangunan pertanian adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui sistem pertanian industrial. Secara operasional pencapaian tujuan tersebut ditempuh melalui tahapan-tahapan pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Kebijakan dan program pembangunan pertanian jangka panjang dijabarkan dalam rencana pembangunan jangka menengah (lima tahunan) dan selanjutnya dijabarkan lebih lanjut ke dalam rencana pembangunan pertanian tahunan.

Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan, Departemen Pertanian telah menyusun Cetak Biru (Blue Print) Pembangunan Pertanian Jangka Panjang (2005 - 2025), Jangka Menengah (2005-2009) dan tahunan. Adapun sasaran jangka panjang pembangunan pertanian, adalah : (1) Terwujudnya sistem pertanian industrial yang berdayasaing; (2) Mantapnya ketahanan pangan secara mandiri;  (3) Terciptanya kesempatan kerja bagi masyarakat pertanian serta (4)  Terhapusnya kemiskinan di sektor pertanian dan tercapainya pendapatan petani US$ 2500/kapita/tahun.
  
Tujuan jangka menengah pembangunan pertanian (2005-2009) adalah : (1) membangun SDM aparatur profesional, petani mandiri, dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) menumbuh-kembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani.