Nendyan Saimima

A little girl. A Student. A Woman

Kamis, 19 Mei 2011

Krisis Timur Tengah

Rontoknya bursa saham dan terdepresiasinya mata uang regional menjadi pemicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Meningkatnya tensi krisis di negara – negara penghasil minyak di Timur Tengah sangat positif bagi penguatan dolar terhadap mata uang Asia karena dianggap lebih beresiko pada saat ini.

Pada transaksi kemarin rupiah ditutup di level 8.879 per dolar AS, atau melemah 22 poin (0,25 persen) dari penutupan sehari sebelumnya.

Analis ekonomi dari PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengemukakan meningkatnya kecemasan para pelaku pasar terhadap gejolak politik di Timur Tengah dan Afrika Utara membuat mata uang lokal melemah dan gagal melanjutkan penguatan.

“Adanya ketidakpastian di kawasan Timur Tengah menguntungakan dolar, karena para investor lebih memilih untuk memegang uang tunai dalam bentuk dolar AS yang dianggap lebih aman disaat seperti ini,” kata Lana.

Kekhawatiran tidak hanya terjadi dipasar uang tetapi juga dibursa saham global termasuk bursa Jakarta dimana indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih dari 46 poin ke level 3.451.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyulut harga minyak jenis Brent naik diatas US$ 105 per barel dan minyak mentah WTI berada di US$ 93 per barel.

Lana memprediksikan rupiah hari ini masih akan melanjutkan pelemahan dengan kisaran antara 8.880 hingga 8.890 per dolar AS. “Masih kuatnya kekhawatiran terhadap kondisi di Lybia dan negara sekitarnya membuat permintaan dolar AS akan meningkat sehingga akan menekan mata uang Asia dan tidak terkecuali rupiah,” papar Lana.

Ketika pecah kerusuhan di Tasikmalaya, Situbondo dan Rengasdengklok (1996) dan kemudian di Ambon dan Poso (1999) banyak pakar-pakar Melayu (termasuk saya sendiri) dan internasional juga, yang langsung menganalisis dan menyimpulkan bahwa itu bukanlah masalah agama. Demikian pula ketika FPI menyerbu kantor majalah Playboy dan massa yang terdiri dari ribuan orang berunjuk rasa pro RUU-APP, banyak yang hakul yakin bahwa itu hanya ulahnya sekelompok orang yang mengatas namakan agama. Tentu ada motif-motif lain di balik isyu "agama" itu. Mungkin politis, dan sangat boleh jadi ekonomi (termasuk uang demo Rp 15.000 sehari).
Tetapi ketika beberapa minggu yang lalu saya melihat tayangan breaking news CNN dan BBC tentang pesawat-pesawat udara Israel yang membomi Libanon tanpa perikemanusiaan, dan menimbulkan korban luar biasa di kalangan penduduk sipil, termasuk anak-anak dan wanita, saya terperanjat bukan main dan mulai berpikir bahwa jangan-jangan analisis saya selama ini salah (untungnya saya tidak sendirian, karena pakar-pakar ilmu sosial, termasuk para pakar ilmu agama dan tokoh agama sependapat dengan saya). Tidak mungkin kalau hanya sekedar bertujuan politik atau ekonomi (konon untuk menjaga kepentingan AS akan ladang-ladang minyak di Timur Tengah), orang-orang Israel akan tega menyaksikan tayangan TV yang terus-menerus tentang anak-anak kecil berteriak-teriak ketakutan, menjerit-jerit karena luka, bahkan ada yang terkapar mati dengan wajahnya yang masih tersenyum lucu, sementara orantguanya menangis meraung-raung. Orang Israel juga manusia, punya hati punya rasa (mengutip syair lagu pop-rock). Hanya satu yang bisa membuat orang kehilangan hati dan perasaannya seperti itu, yaitu keyakinan akan sesuatu kebenaran yang dianggapnya sangat mutlak.
Di jaman Lon Nol, anggota-anggota pasukan Khmer Merah, dengan santai membelah perut ibu yang sedang hamil hidup-hidup karena keyakinannya bahwa begitulah caranya untuk membasmi imperisalisme dan kapitalisme Amerika. Ideologi mereka pada waktu itu adalah komunis, sama dengan PKI-PKI yang konon membantai rakyat jelata di pemberontakan Madiun 1948, maupun pada peristiwa G-30-S 1965. Tetapi bukan komunisme saja yang bisa mendorong manusia gelapmata seperti itu. Nasionalisme Serbia menyebabkan tentara ex-anak buah Tito itu membabat etnik Bosnia habis-habisanm, dan di zamannya Hitler, nasionalisme Jerman (Nazi) telah menyebabkan pramuka-pramuka Jerman (Hitler Jugend) tega melaporkan tetangga teman mainnya yang kebetulan Yahudi ke Gestapo.

Ketahanan Ekonomi

Definisi ketahanan ekonomi. Ketahanan ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang dating dari dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun tidak langsung menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu ikli usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.

Krisis Yunani memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Kedisiplinan dalam menjaga kebijakan fiskal ternyata menentukan stabilitas perekonomian suatu negara. Krisis yang terjadi di Eropa belakangan ini kembali membuat kita perlu memperkuat fundamental ekonomi karena ancaman krisis global akan terus terjadi. Beberapa dampak krisis keuangan global dapat berupa berfluktuasinya indeks harga saham, imbal hasil (yield) surat utang negara dan credit default swap (CDS). Dari sektor riil, derivasi krisis keuangan berpotensi menurunkan target penyerapan tenaga kerja nasional. 

Beberapa hari ini kita mengalami keresahan yang serupa. Geliat pasar yang ramai di bulan Maret, April, menjadi lesu di bulan Mei ini. Ada sekitar Rp 400 triliun dana asing yang sudah pindah keluar negeri, dari pasar saham dan dialihkan ke investasi lain yang lebih terukur risikonya. Fenomena yang kemudian menurunkan nilai rupiah ke titik Rp Rp 9.300 per dolar AS ini adalah reaksi dari keraguan pasar akibat krisis Yunani dan negara-negara Eropa lainnya yang masih dikhawatirkan akan memengaruhi perekonomian dunia.

Ancaman krisis keuangan akan selalu terjadi sebagai konsekwensi logis dari sistem ekonomi dunia yang terintegrasi. Maka kita perlu membangun ketahanan ekonomi nasional (resilient) dari ketidakpastian-permanen (permanent uncertainty) ekonomi global. Dinamika yang terjadi di pasar karena permanent uncertainty perlu dikelola keseimbangannya, sehingga dapat mencapai stabilitas yang mendukung pembangunan ekonomi. Stabilitas ini dibutuhkan, sehingga pelaku pasar dapat memperkirakan risiko dalam berinvestasi di Indonesia. Singkatnya, tingginya ketidakpastian akibat dari rentannya ketahanan ekonomi nasional dapat berakibat pada semakin tingginya risiko untuk berinvestasi di Indonesia, yang dapat menghambat pembangunan ekonomi, terutama di sektor riil.

Dalam perspektif sektor keuangan, maka penerapan kebijakan fiskal yang sangat hati-hati akan dapat menahan external-shock dengan baik. Kebijakan untuk tetap mempertahankan defisit anggaran pada kisaran 2,1 persen dari PDB (Rp 133,7 triliun), dapat memompa ekonomi nasional untuk tumbuh (growth) secara berimbang dengan tetap memperhatikan target inflasi. Belajar dari pengalaman Yunani, krisis terjadi karena kurangnya prinsip kehati-hatian dalam menetapkan besaran kebijakan fiskal, sehingga akhirnya berpengaruh kepada kemampuan negara untuk memperoleh pendanaan dalam membiayai anggaran dan ditambah dengan besarnya kebutuhan untuk membiayai hutang yang dimiliki.

Hal yang paling dikhawatirkan dari dampak krisis ekonomi adalah kelangkaan 'likuiditas', baik di tingkat global maupun nasional. Pemilik modal akan menahan untuk berinvestasi sampai kondisi dirasa kondusif untuk menjamin tingkat pengembalian (return). Untuk mengantisipasi permasalahan ini, dibutuhkan hubungan yang baik dengan berbagai lembaga keuangan yang dapat menjadi rekan untuk membantu likuiditas sehingga krisis tidak berimbas kepada negara-negara lainnya. Dalam konteks regional, krisis yang terjadi di suatu negara, seperti di Yunani, menjadi tanggung jawab tidak hanya pemerintah negara Eropa, tetapi juga negara tetangganya, seperti Jerman. Aksi yang responsif yang dilakukan oleh negara-negara tetangga ini juga menjadi penting perannya dalam mengantisipasi krisis ekonomi.  

Selain dukungan dari lembaga keuangan dan negara-negara tetangga yang mempunyai hubungan dagang yang strategis, kebijakan pemerintah juga perlu diambil untuk lebih mengefektivitaskan pengeluaran pemerintah. Pengeluaran ini diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menumbuhkan usaha dan menyerap tenaga kerja. Investasi sektor riil perlu didorong untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan menjamin supply barang dan jasa. Sementara penyerapan tenaga kerja dilakukan untuk tetap menjamin kemampuan daya beli masyarakat. Belajar dari krisis ekonomi tahun 2008, maka stimulus fiskal mempunyai peran dalam mengakselarasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri saat banyak sektor swasta yang menahan aktivitas usahanya karena ketidakpastian dan risiko yang tinggi.

Krisis yang terjadi juga akan menurunkan permintaan, sehingga untuk negara-negara yang berorientasi ekspor, krisis ekonomi di negara mitra dagang akan menurunkan permintaan dari negara tersebut. Dalam upaya untuk menahan laju perlambatan ekspor, perlu dilakukan beberapa langkah strategis. Pemeritnah perlu melakukan penguatan ekspor melalui diversifikasi pasar dan tujuan ekspor. Misalnya, pemerintah mengambil langkah yang dapat mengurangi ketergantungan (dependency) akan suatu pasar ekspor.

Pemberian insentif berupa pengurangan pajak ekspor, bantuan pembiayaan melalui pembelian Wesel Ekspo Berjangka (WEP), penyederhanaan prosedur ekspor dan perbaikan infrastruktur dapat membantu para eksportir untuk memperluas pasar mereka. Infrastruktur dan pengurangan berbagai pajak ini sudah pernah dilakukan oleh banyak negara ketika mengalami krisis 2008. Indonesia juga mengalokasikan dana untuk stimulus fiskal yang dipakai untuk membangun infrastruktur, selain timulus pajak. China mengalokasikan jumlah besar untuk pembangunan infrastruktur.

Kebijakan untuk komposisi alokasi stimulus fiskal juga perlu disesuaikan dengan nature perekonomian Indonesia. Berapa besar leverage dari stimulus fiskal terhadap pembukaan lapangan kerja di Indonesia, dan tenaga kerja mana yang disasar adalah pekerjaan rumah yang tidak kalah sulitnya bagi pemerintah. Pilihan kebijakan untuk direct spending dibandingkan dengan stimulus pajak mempunyai implikasi masing-masing. Belajar dari krisis 2008, maka pemerintah perlu mempertimbangkan besaran direct spending untuk infrastruktur yang implikasinya langsung diterima sektor riil. Selain itu, kebijakan ini juga perlu didukung oleh kinerja kementerian lainnya, seperti PU (Pekerjaan Umum) yang mempunyai tugas untuk merealisasikan dana untuk membangun infrastruktur ini. 

Akhirnya, dalam sistem ekonomi yang digerakkan oleh 'sentimen-pasar', kita perlu menjaga momentum optimisme ekonomi Indonesia di tengah-tengah ancaman krisis ekonomi dunia. Capital outflow merupkan ancaman serius akibat dampak krisis ekonomi di tempat lain. Walaupun memang capital outflow ini terdiri dari dana investor yang bermain di sektor keuangan, pengaruh dari sentimen negatif terhadap pasar akan memberikan efek perlambatan keyakinan terhadap investasi-investasi di sektor riil lainnya.

Sentimen negatif ini menurunkan IHSG dan terdepresiasinya nilai tukar mata uang rupiah. Ini nantinya akan berdampak pada sektor produksi dalam negeri, terutama mereka yang menggunakan komponen impor dalam jumlah besar. Meningkatnya biaya produksi ini akan menurunkan daya saing produk kita dibandingkan negara lainnya. Belum lagi ancaman produk lain yang masuk ke Indonesia seiring dengan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) akan semakin membuat kita perlu bekerja keras dan cermat mengelola berbagai instrumen keuangan yang dapat memitigasi pengaruh global terhadap sektor keuangan dan sentimen negatif yang dapat ditimbulkan.

Sebagai penutup, stabilitas politik perlu kita jaga bersama. Karena hal ini dapat menjaga stabilitas bagi perekonomian regional. Di kawasan ASEAN, politik yang sedang terjadi di Thailand dapat berdampak positif sekaligus juga berpotensi negatif bagi Indonesia. Positif karena Indonesia mendapatkan limpahan modal investasi dan turis akibat destabilitas politik yang terjadi. Namun, pada saat yang bersamaan muncul pemahaman bahwa destabilitas politik akan dapat saja terjadi di Indonesia. Apabila hal ini terjadi, maka akan berdampak pada pegurangan investasi baik dalam pasar uang maupun sektor riil (foreign direct investment).

Berbagai faktor, seperti ketahanan ekonomi nasional terhadap krisis luar negeri yang mempegaruhi sentimen negatif di sektor keuangan, pilihan kebijakan stimulus fiskal yang dapat mengakselarasi pertumbuhan, dan peran sektor riil yang mempunyai daya tahan dalam mendukung keunggulan daya saing dan stabilitas politik regional dan nasional adalah beberapa faktor yang perlu dikelola oleh pemerintah, DPR, LSM dan masyarakat luas. Dengan begitu kita dapat menunjukkan kepada dunia bahwa perekonomian di Indonesia sangatlah kondusif dan memberikan insentif yang cukup untuk siapapun yang ingin berinvestasi dan memberikan kontribusi bagi pembangunan perekonomian Indonesia.

Neraca Pembayaran, Arus Modal Asing, dan Utang Luar Negeri

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 13


1.   Neraca Pembayaran

Neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial.
Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua macam transaksi :
Transaksi debit, yaitu transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini disebut transaksi negatif (-), yaitu transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa.
Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. Transaksi ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi yang menyebabkan bertambahnya posisi cadangan devisa negara.

2.   Arus Modal Masuk

Anggota Komite Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan masih derasnya arus modal masuk ke Indonesia ini bukan karena adanya gelembung ekonomi, tapi karena Indonesia memang dianggap memberi prospek yang baik terhadap para investor. "Tapi karena prospek Indonesia yang tumbuh lebih cepat”.

Indonesia, oleh para investor negara-negara maju tersebut, dinilai masih akan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditawarkan negara-negara maju.

Ada beberapa faktor yang membuat rupiah akan terus menguat, pertama ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat, adanya perbaikan peringkat surat utang Indonesia, dan suku bunga di dunia masih belum akan meningkat secara signifikan, ini karena negara-negara maju masih memerlukan stimulus dari sisi moneter.

Selain itu, bank sentral Amerika Serikat masih akan melakukan kebijakan quantitative easing atau kebijakan menggelontorkan uang ke sistem perekonomian pada 2011.

The Fed telah menyatakan akan membeli kembali surat utang pemerintah Amerika di pasar sekunder hingga US$ 600 miliar pada 2011. Akibatnya, suplai dolar di Amerika Serikat dan di pasar dunia akan terus meningkat.
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan arus modal asing akan terus deras masuk sampai akhir tahun 2010. Setidaknya ada 2 alasan mengapa aliran modal akan tetap masuk ke Indonesia.

Sepanjang tahun ini kalau tidak ada sentimen negatif, kecuali di Eropa terjadi seperti kemarin lagi. Maka arahnya arus modal akan masuk terus masuk.
Salah satu faktor derasnya aliran modal ke Indonesia karena pertumbuhan ekonomi lebih bagus di negara-negara emerging market daripada negara maju.
Disana (negara maju), pertumbuhan ekonomi di Eropa hanya 1 %, Amerika hanya 3 %. Namun di Asia 6% sampai 8%, ada juga yang 10%. Itu saja sudah membuat modal tertarik masuk.
Faktor yang kedua, lanjut Darmin yakni tingkat suku bunga. Saat ini, menurut Darmin, negara-negara Eropa masih menahan tingkat bunganya di kisaran 1%. Sementara India diatas 5%, Indonesia 6,5%. Ya datang dia (arus modal).

3.   Utang Luar Negeri

Utang luar negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian dari total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut. Penerima utang luar negeri dapat berupa pemerintah, perusahaan, atau perorangan. Bentuk utang dapat berupa uang yang diperoleh dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Jumlah dan asal utang Indonesia
Utang luar negeri Indonesia lebih didominasi oleh utang swasta. Berdasarkan data di Bank Indonesia, posisi utang luar negeri pada Maret 2006 tercatat US$ 134 miliar, pada Juni 2006 tercatat US$ 129 miliar dan Desember 2006 tercatat US$ 125,25 miliar. Sedangkan untuk utang swasta tercatat meningkat dari US$ 50,05 miliar pada September 2006 menjadi US$ 51,13 miliar pada Desember 2006.[1]
Negara-negara donor bagi Indonesia adalah:
1.      Jepang merupakan kreditur terbesar dengan USD 15,58 miliar.
2.      Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USS 9,106 miliar
3.      Bank Dunia (World Bank) sebesar USD 8,103 miliar.
4.      Jerman dengan USD 3,809 miliar, Amerika Serikat USD 3,545 miliar
5.      Pihak lain, baik bilateral maupun multilateral sebesar USD 16,388 miliar.

Pembayaran utang
Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun. Jumlah utang negara Indonesia kepada sejumlah negara asing (negara donor)di luar negeri pada posisi finansial 2006, mengalami penurunan sejak 2004 lalu sehingga utang luar negeri Indonesia kini 'tinggal' USD 125.258 juta atau sekitar Rp1250 triliun lebih.

Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan.

Kebijakan Perdagangan Luar Negeri

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 12


Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.
Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.

Manfaat perdagangan internasional

Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut.
  • Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
    Banyak faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut di antaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
  • Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
    Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
  • Memperluas pasar dan menambah keuntungan
    Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri.
  • Transfer teknologi modern
    Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern.

[sunting] Faktor pendorong

Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut :





Industrialisasi

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 9

Jakarta, 21/5/2010 (Kominfo-Newsroom) – Deputi Bidang EkonomiBappenas Slamet Senoadji mengatakan, meski Indonesia masuk dalampersaingan pasar bebas kawasan ASEAN-China melalui ACFTA danpertumbuhan sektor investasi melambat, namun sektor industrinasional masih bisa tumbuh antara empat hingga lima persen padatahun 2010.
Pertumbuhan itu tertolong oleh kuatnya ekonomi domestik nasionalyang ditimbulkan oleh tingkat kosumsi dalam negeri yang masihbergerak hingga lima persen, katanya dalam sebuah acara seminar diKompleks DPR RI Jakarta, Jumat (21/5).

Ia menambahkan juga bahwa pertumbuhan itu juga didorong olehstabilnya sektor pertanian yang selama ini menjadi leading sektor,serta tingginya pertumbuhan sektor transportasi.
Diakuinya bahwa bahwa pada tahun 2009 pertumbuhan industrimenurun sekitar 1,47 persen dibanding tahun 2008 yang tumbuhsebesar 3,01persen, dan tahun 2007 yang naik sebesar 5,57persen.
Namun pada kwartal I tahun 2010 ini pertumbuhan kembali naikmenjadi empat persen, dan diharapkan pada kuartal berikutnya bisalebih tinggi lagi, kata Slamet Senoajdi
Menurut dia, ke depannya, pada periode tahun 2010-2012,pemerintah akan mengupayakan peningkatan investasi dan ekspor,sedangkan di bidang sektoral industri harus ditingkatkan, karenabidang ini lah yang akan mampu menyelamatkan pertumbuhan ekonomiIndonesia.

Dikemukakan bahwa dalam produk domestik bruto (PDB), bidangindustri berkonstribusi sebesar 25-26 persen, namun hal itu diakuiterjadi penurunan dibandingkan tahun2004 yang mencapai 28 persen,sehingga peran industri memang sangat besar kalau dilihat dari segiPDB.
Menurut dia, kalau pemerintah mampu meningkatkan bidangindustri, meski dalam kondisi pasar bebas, pertumbuhan ekonomi akantumbuh lebih baik, dan akan menjadi lokomotif pergerakan ekonomiIndonesia.
Saat ini ada empat sub sektor ekonomi yang dominan, yaitumakanan, minuman, alat angkutan dan pupuk, yang kesemuanyamendukung 80 persen dari total sektor industri non migas,katanya.
Sedangkan dari bidang serapan tenaga kerja dari rendahnyapertumbuhan industri sejak tahun 2004-2009 dari 10 juta tenagakerja, penambahan hanya 900 ribu/lima tahun, sehingga hal ini perluada peningkatan bidang industri agar serapan tenaga kerja bisalebih banyak lagi.

Cukup penting bagi pemerintah untuk mendorong industri yangbanyak membutuhkan tenaga kerja, dan caranya adalah denganmeningkatkan dan memperbaiki regulasi mengenai ketenagakerjaan,sehingga masalah penurunan biaya dan tenaga kerja outsourcing padatahun 2010 diharapkan bisa selesai, kata Slamet Senoadji.
Mengenai ekspor non migas, katanya, sudah cukup tinggi, karenapada tahun 2004 mencapai 48,7 miliar dollar AS, dan tahun 2008sebesar 88,4 miliar dollar AS, meskipun pada tahun 2009 kembaliturun akibat krisis global, yaitu hanya sebesar 71 miliar dollarAS.
Sedangkan pada kuartal I tahun 2010 nilai ekspor mencapai 21,1miliar dollar AS, atau naik sekitar 37,7 persen dibanding kuartal Itahun 2009, katanya. (gro/ysoel)



Jakarta, 21/5/2010 (Kominfo-Newsroom) – Deputi Bidang EkonomiBappenas Slamet Senoadji mengatakan, meski Indonesia masuk dalampersaingan pasar bebas kawasan ASEAN-China melalui ACFTA danpertumbuhan sektor investasi melambat, namun sektor industrinasional masih bisa tumbuh antara empat hingga lima persen padatahun 2010.
Pertumbuhan itu tertolong oleh kuatnya ekonomi domestik nasionalyang ditimbulkan oleh tingkat kosumsi dalam negeri yang masihbergerak hingga lima persen, katanya dalam sebuah acara seminar diKompleks DPR RI Jakarta, Jumat (21/5).
Ia menambahkan juga bahwa pertumbuhan itu juga didorong olehstabilnya sektor pertanian yang selama ini menjadi leading sektor,serta tingginya pertumbuhan sektor transportasi.
Diakuinya bahwa bahwa pada tahun 2009 pertumbuhan industrimenurun sekitar 1,47 persen dibanding tahun 2008 yang tumbuhsebesar 3,01persen, dan tahun 2007 yang naik sebesar 5,57persen.
Namun pada kwartal I tahun 2010 ini pertumbuhan kembali naikmenjadi empat persen, dan diharapkan pada kuartal berikutnya bisalebih tinggi lagi, kata Slamet Senoajdi
Menurut dia, ke depannya, pada periode tahun 2010-2012,pemerintah akan mengupayakan peningkatan investasi dan ekspor,sedangkan di bidang sektoral industri harus ditingkatkan, karenabidang ini lah yang akan mampu menyelamatkan pertumbuhan ekonomiIndonesia.

Dikemukakan bahwa dalam produk domestik bruto (PDB), bidangindustri berkonstribusi sebesar 25-26 persen, namun hal itu diakuiterjadi penurunan dibandingkan tahun2004 yang mencapai 28 persen,sehingga peran industri memang sangat besar kalau dilihat dari segiPDB.
Menurut dia, kalau pemerintah mampu meningkatkan bidangindustri, meski dalam kondisi pasar bebas, pertumbuhan ekonomi akantumbuh lebih baik, dan akan menjadi lokomotif pergerakan ekonomiIndonesia.
Saat ini ada empat sub sektor ekonomi yang dominan, yaitumakanan, minuman, alat angkutan dan pupuk, yang kesemuanyamendukung 80 persen dari total sektor industri non migas,katanya.
Sedangkan dari bidang serapan tenaga kerja dari rendahnyapertumbuhan industri sejak tahun 2004-2009 dari 10 juta tenagakerja, penambahan hanya 900 ribu/lima tahun, sehingga hal ini perluada peningkatan bidang industri agar serapan tenaga kerja bisalebih banyak lagi.

Cukup penting bagi pemerintah untuk mendorong industri yangbanyak membutuhkan tenaga kerja, dan caranya adalah denganmeningkatkan dan memperbaiki regulasi mengenai ketenagakerjaan,sehingga masalah penurunan biaya dan tenaga kerja outsourcing padatahun 2010 diharapkan bisa selesai, kata Slamet Senoadji.
Mengenai ekspor non migas, katanya, sudah cukup tinggi, karenapada tahun 2004 mencapai 48,7 miliar dollar AS, dan tahun 2008sebesar 88,4 miliar dollar AS, meskipun pada tahun 2009 kembaliturun akibat krisis global, yaitu hanya sebesar 71 miliar dollarAS.
Sedangkan pada kuartal I tahun 2010 nilai ekspor mencapai 21,1miliar dollar AS, atau naik sekitar 37,7 persen dibanding kuartal Itahun 2009, katanya. (gro/ysoel)



Mencari Data statistic PDB Berdasarkan Sektor

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 8


Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada Triwulan I-2011 ...Berita Resmi Statistik No. 52/08/Th. XIII, 5 Agustus 2010 1 No. 52/08/Th. XIII, 5 Agustus 2010 P ERTUMBUHAN E KONOMI I NDONESIA T RIWULAN II-2010 EKONOMI INDONESIA ...Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 1; Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2009 ...Berita Resmi Statistik No. 71/11/Th. XIII, 5 November 2010 1; Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan III-2010 meningkat sebesar 3,5 persen terhadap ...Berita Resmi Statistik No. 11/02/Th. XII, 16 Februari 2009 1; Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008 meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2007 ...
STATISTIK MAKRO. SEKTOR PERTANIAN. Daftar Tabel : KATA PENGANTAR. Lanjutan Daftar Tabel. PDB: ... Kredit Sektor Ekonomi Menurut Sektor dan Jenis Penggunaan 2008-2010 ...Preview and download documents about sektor pertanian. Docstoc is a community for sharing professional documents, find free documents and upload documents to share.ANTARAnews.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan, mengatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) berdasar harga berlaku pada 2010 minimal Rp6.300 triliun.Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada Triwulan II-2010 mencapai Rp1.572,4 triliun, ... Sektor pertanian pada Triwulan II-2010 tumbuh 3,4 persen, setelah ...triliun atau sebesar 24,4 persen dari total PDB, kemudian Sektor Pertanian Rp272,1 triliun ... III-2010 yaitu Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor .



Tujuan Pembangunan Pertanian
Tujuan akhir pembangunan pertanian adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui sistem pertanian industrial. Secara operasional pencapaian tujuan tersebut ditempuh melalui tahapan-tahapan pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Kebijakan dan program pembangunan pertanian jangka panjang dijabarkan dalam rencana pembangunan jangka menengah (lima tahunan) dan selanjutnya dijabarkan lebih lanjut ke dalam rencana pembangunan pertanian tahunan.

Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan, Departemen Pertanian telah menyusun Cetak Biru (Blue Print) Pembangunan Pertanian Jangka Panjang (2005 - 2025), Jangka Menengah (2005-2009) dan tahunan. Adapun sasaran jangka panjang pembangunan pertanian, adalah : (1) Terwujudnya sistem pertanian industrial yang berdayasaing; (2) Mantapnya ketahanan pangan secara mandiri;  (3) Terciptanya kesempatan kerja bagi masyarakat pertanian serta (4)  Terhapusnya kemiskinan di sektor pertanian dan tercapainya pendapatan petani US$ 2500/kapita/tahun.
  
Tujuan jangka menengah pembangunan pertanian (2005-2009) adalah : (1) membangun SDM aparatur profesional, petani mandiri, dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) menumbuh-kembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani.



Tingkat Kemiskinan dan Pendapatan perkapita Indonesia saat ini dengan Negara Asean

Nama : Nendyan Graes Saimima
Kelas : 1 EB 18
NPM : 2921051
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Tugas minggu 5/6


Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat. Negara inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Sedangkan Amerika Serikat bahkan mengalami depresi dan resesi ekonomi pada tahun 1930-an dan baru setelah tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat tercatat sebagai Negara Adidaya dan terkaya di dunia.

Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.

Pendapatan
Pendapatan per kapita penduduk Indonesia menembus angka US $ 18,000 atau sekitar Rp. 180.000.000,00 per tahun. Angka tersebut jauh di atas beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang hanya memiliki pendapatan per kapita penduduk US $ 6,220, atau Thailand dengan pendapatan per kapita penduduknya US $ 2,990. Rekor tersebut hampir menyamai Korea yang memiliki income per kapita penduduk US $ 20,000, meskipun masih jauh di bawah Jepang, Australia, dan Amerika yang memiliki pendapatan per kapita penduduk di atas US $ 30,000.

Itulah topik terhangat yang dicatat di halaman surat kabar nasional pada tahun 2030. Itu pun hanya prediksi beberapa ahli yang mengabaikan peningkatan pendapatan beberapa negara lain di atas yang memang memiliki pendapatan per kapita seperti apa yang tertulis saat ini. Dengan berat hati kita harus mengakui bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia hanya US $ 1,946 pada tahun 2008, jauh di bawah Jepang US $ 34,189, Amerika US $ 43,444, Australia US $ 50,000, dan Singapura US $ 29,320. Apa masyarakat Indonesia harus menunggu sampai tahun 2030? Dan apa mungkin di tahun 2030 prediksi itu benar-benar akan tercapai? Atau itu hanyalah mimpi indah belaka bagi rakyat Indonesia? Sampai sekarang masalah kemiskinan masih menjadi “hantu” yang menakutkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia.

Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat. Negara inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Sedangkan Amerika Serikat bahkan mengalami depresi dan resesi ekonomi pada tahun 1930-an dan baru setelah tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat tercatat sebagai Negara Adidaya dan terkaya di dunia.

Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.